TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA – United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menggelar konferensi World Press Freedom Day 2025 atau Hari Kebebasan Pers Sedunia bertajuk Brave New World – The Impact of Artificial Intelligence on Press Freedom and the Media di Brussels, Belgia, Rabu (7/5/2025).
Acara tersebut turut dihadiri seluruh insan pers dunia, termasuk Indonesia. Menghadirkan 850 peserta yang meliputi jurnalis, professional media, pejabat pemerintah, organisasi masyarakat sipil, pakar tekonologi dan pemuda dari seluruh dunia.
Ketua Komisi Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi Pers Dewan Pers Paulus Tri Agung Kristanto hadir langsung mewakili Indonesia dalam acara tersebut. Ia mengatakan, dunia termasuk Indonesia tengah mengalami tekanan luar biasa karena kehadiran Artificial Intelligence (AI), yakni kecerdasan buatan atau kemampuan mesin untuk meniru kecerdasan manusia.
Menurut dia, insan pers saat ini dihadapkan dengan kenyataan karena dituntut untuk bisa bekerja kreatif. Lantaran dengan hadirnya AI berimbas pada pemecatan yang dilakukan sejumlah perusahaan media terhadap karyawannya.
“Jadi kalau wartawan, jurnalis tidak mengembangkan dirinya juga dan tidak mengambil fokus, mungkin sisi yang lebih menarik dan kemudian tidak turun ke lapangan. Ya selesai sudah berhadapan dengan AI,” kata Tri saat menggelar konferensi pers di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (9/5/2025).
Tri menyebut, AI bisa menjadi suatu ancaman serius ke depan bilamana dalam pemanfaatannya tidak dipergunakan dengan baik. Ia tak memungkiri, teknologi yang kian maju sejatinya memberi peluang terhadap media untuk jauh lebih berkembang beriringan dengan AI.
“Jadi kecerdasan buatan ini menjadi bagian dari kolaborasi yang bisa mengembangkan media,” ujar dia.
Tri menjelaskan, AI terus berkembang setiap hari hingga dapat mengetahui hal-hal yang menjadi keperluan manusia, bahkan bisa menjadi teman ngobrol ataupun curhat. Dalam konteks pekerjaan, wartawan akan sangat terbantu dengan kecerdasan AI lantaran bisa menjadi sumber data untuk referensi dalam penulisan berita.
Kendati begitu, AI tetap memiliki kekurangan karena dari data yang sampaikan tidak sepenuhnya akurat. Lantas wartawan jangan terbuai dengan hadirnya AI, namun harus tetap dituntut mencari data-data yang valid sesuai dengan fakta di lapangan.
“Kecerdasan buatan ini sekarang makin pintar, karena bahkan dia (AI) sudah bisa buat cerita sendiri, tinggal masukkan datanya, bahkan dalam beberapa kasus kreatif AI atau kecerdasan buatan ini, dia sudah bisa mengolah datanya sendiri,” jelas Tri.
“Bahkan kemudian bisa menanyakan balik kepada publik yang menggunakan dia, termasuk ke wartawan, kebutuhanmu apa lagi,” sambung dia.
Tri mengungkapkan, banyak kesalahan yang ditemukan dalam AI dan menjadi salah satu topik pembahasan pada acara kemarin. Namun secara umum kehadiran AI tetap menjadi tantangan walaupun ancaman bakal menanti jika pemanfaatannya tidak dilakukan dengan baik.
“Jadi kalau teman-teman sekarang buka Google menanyakan sesuatu gitu, yang muncul kan AI, enggak muncul lagi link berita teman-teman. Sehingga yang namanya media online yang berbasiskan page view akan segera tertinggal.
Lebih lanjut Tri menyampaikan, perusahaan pers bisa mengefisiensi tenaga kerja karena AI akan sangat berguna seperti menerjemahkan bahasa dari Inggris ke Indonesia. Sehingga produksi berita akan sangat maksimal karena kecepatan AI dalam hal tersebut.
“Dulu dengan tenaga manusia mungkin hanya bisa memproduksi tiga berita yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia. Dengan AI bisa dikerjakan semua bahkan lebih dari 10 berita per hari,” ungkap dia.
Oleh sebab itu, Tri kembali mengatakan, wartawan di lapangan bakal sangat terbantu dengan kehadiran AI dalam melakukan kerja-kerja jurnalistik. Namun, ia menegaskan pula, manusia jangan kalah dengan kecanggihan teknologi, karena AI tidak memahami perasaan manusia sesungguhnya.
“Wartawan tentu akan sangat dimanja saat meliput dilapangan, tetapi ingat bijak menggunakannya tapi tetap menuliskan sumber data yang sebenar-benarnya dan sesuai fakta,” kata dia memungkasi. ***












