TEROPONGNEWS.COM, DEPOK – Guna memperkuat perlindungan anak dan menciptakan lingkungan sehat di wilayah pendidikan, Dinas Kesehatan Kota Depok menyelenggarakan kegiatan diseminasi hasil survei Perilaku Merokok Remaja serta dampaknya terhadap kesehatan, sosial, dan kebijakan publik. Acara ini berlangsung di Aula Serbaguna, Lantai 10 Gedung Baleka 2, Balai Kota Depok, Senin (19/5/2025).
Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari seluruh Puskesmas di Kota Depok, para kepala sekolah, serta sejumlah pemangku kepentingan dari sektor pendidikan dan kesehatan. Diseminasi ini tidak hanya menyajikan data terkini, tetapi juga menjadi ruang diskusi dan sinergi untuk merancang strategi kolektif dalam mengendalikan konsumsi rokok di kalangan remaja.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, dr. Mary Liziawati, MKM, dalam paparannya menekankan pentingnya pencegahan perokok pemula sebagai langkah awal menciptakan generasi sehat.
Ia juga menyoroti pentingnya implementasi tegas terhadap kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), terutama di lingkungan sekolah dan fasilitas umum.
“Kita tidak bisa lagi menunda. Jumlah perokok pemula di kalangan remaja menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kami berkomitmen memperkuat regulasi dan memperluas pengawasan terhadap kawasan bebas rokok, khususnya di sekolah-sekolah,” tegas dr. Mary.
Narasumber kedua, Dr. Dra. Rita Ramayanti, M.S.P.H., dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, memaparkan hasil survei mendalam mengenai perilaku merokok di kalangan remaja.
Data yang dipresentasikan mengungkap sejumlah fakta mencemaskan: mulai dari akses rokok yang masih sangat mudah, pengaruh kuat iklan rokok terhadap psikologi remaja, hingga tingginya paparan rokok pasif di lingkungan rumah maupun sekolah.
“Banyak remaja mulai merokok karena faktor teman sebaya, iklan, hingga tekanan sosial. Iklan rokok yang masif dan masih dapat dijangkau anak-anak menjadi tantangan serius,” papar Rita.
Ia juga menekankan pentingnya peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam melakukan edukasi dini dan pengawasan.
Dalam sesi diskusi, para peserta yang terdiri dari tenaga kesehatan dan pendidik berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Beberapa di antaranya menyoroti lemahnya penegakan aturan KTR, serta perlunya peningkatan edukasi melalui pendekatan yang lebih interaktif di sekolah.
Suasana diskusi berlangsung aktif dan konstruktif, mencerminkan antusiasme peserta dalam mendukung terbentuknya ekosistem pendidikan yang lebih sehat dan bebas rokok.
Dinas Kesehatan berharap kegiatan ini dapat menjadi katalisator penguatan kerja sama lintas sektor, terutama dalam menciptakan sekolah-sekolah yang benar-benar ramah anak dan bebas dari paparan asap rokok. Melalui edukasi, regulasi, dan pengawasan terpadu, Pemkot Depok menargetkan penurunan angka perokok remaja secara bertahap.
“Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga tentang masa depan generasi muda kita,” tutup dr. Mary Liziawati.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang melibatkan berbagai pertanyaan kritis dari peserta, sekaligus menjadi forum pembelajaran bersama. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini mampu ditindaklanjuti dengan aksi nyata di masing-masing sektor demi Depok yang lebih sehat, aman, dan ramah anak.***












