BeritaNasionalReligi

Mengapa Candi Borobudur Jadi Sentra Perayaan Waisak?

×

Mengapa Candi Borobudur Jadi Sentra Perayaan Waisak?

Sebarkan artikel ini
Suasana Waisak di Candi Borobudur./(Foto: Humas Kementerian Pariwisata)

TEROPONGNEWS.COM, MAGELANG – Trisuci Waisak 2569 Budda Era jatuh pada Senin, (12/5/2025). Perayaan Waisak tahun ini pun kembali berpusat di Candi Borobudur.

Lantas, mengapa Candi Borobudur menjadi sentra spiritual yang biasanya menjadi pusat perayaan trisuci Waisak di Indonesia? Ternyata ada alasannya.

Hari raya waisak, identik dengan peringatan Trisuci atau tiga peristiwa penting mulai dari kelahiran, penerangan Agung, dan kematian Buddha Gautama.

Seperti diketahui sebelum mengenal kebudayaan Timur Tengah dan agama Islam masuk di Indonesia, agama Buddha sudah lebih dulu menjadi basis keyakinan bagi masyarakat Indonesia.

Ditandai dengan sejumlah bukti sejarah peninggalan kerajaan Budha yang bisa ditemui di beberapa titik di tanah air. Antara lain kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat awal mulanya berbasis agama Buddha.

Di provinsi lainnya di Sumatera ada Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang yang dulu dikenal dengan keberadaan Raja Syailendra.

Ada pula di area Magelang dengan ditemukannya beberapa bangunan candi seperti Candi Roro Mendut, candi Mendut dan Borobudur.

Di wilayah Jawa Barat juga terdapat peninggalan sejarah Kerajaan Tarumanegara. Termasuk di Kalimantan Timur atau kerajaan Kutai negara yang berbasis agama Buddha.

Ada pula Kerajaan Bali Dwipa di sekitar Gianyar Bali dulunya merupakan kerajaan Budha. Akan tetapi ketika peradaban Islam datang ke Indonesia rezim beberapa kerajaan itu runtuh berganti keyakinan menjadi islam.

Beberapa Candi yang saat ini masih digunakan sebagai pusat ibadah agama Buddha, salah satunya Candi Borobudur.

Kemasyuran nama Candi Borobudur di era kepemimpinan presiden pertama Indonesia Soekarno juga semakin dikenal dunia,karena menjadi salah satu keajaiban dunia.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin, (12/5/2025). Tradisi perayaan waisak yang digelar umat Buddha biasanya dirayakan di Candi Mendut menuju Candi Borobudur dimulai sejak tahun 1929 Masehi.

Namun, perayaan Waisak bisa digelar secara lebih luas lagi sejak tahun 1980 dengan ditetapkannya amanat keputusan Menteri Agama (Kepmenag) nomor 35 tahun 1980.

Setelah tiga tahun kemudian pada tahun 1983 melalui Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1983 ditetapkan waisak masuk ke dalam hari libur nasional bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam Keppres Nomor 3 tahun 1983 juga diatur oleh pemerintah Indonesia bahwa Candi Borobudur bisa menjadi pusat ibadah agama Buddha seluruh Indonesia.

Sebab, diketahui sebelum Keppres di sahkan banyak pemeluk agama Buddha merayakan waisak secara komunal karena tidak dijadikan hari libur nasional.

Berjalannya waktu di era tahun 1990 an perayaan waisak di Indonesia lalu bisa di rayakan di Candi Borobudur dengan keputusan dari Word Fellowshift Buddhism (WFB) atau organisasi Umat Budha sedunia.

Sejak saat itu, satu dekade kemudian Candi Borobudur kembali dikukuhkan sebagai pusat ibadah agama Buddha bagi masyarakat Indonesia dan dunia dengan disertai adanya nota kesepakatan 4 kementerian dan dua pemerintah provinsi pada tanggal 11 Februari 2022.

Menurut Sekjen Walubi Jawa Tengah, Gunawan  saat dihubungi teropongnews, Senin, (12/5/2025) ada sejarah panjang yang menjadi alasan Candi Borobudur menjadi sentra perayaan waisak.

“Sudah sejak lama Candi Borobudur menjadi sentra perayaan Waisak. Kalau tidak salah tahun 1930 an. Namun saat itu belum dijadikan hari libur nasional. Setelah ada Keppres (1980) dan (di tahun 1983) resmi dijadikan hari libur nasional Candi Borobudur sudah mulai menjadi pusat ibadah umat budha,” kata Gunawan.

Akan tetapi, kata Gunawan, sejak adanya rekomendasi dari Word Fellowshift Buddhism (WFB) atau organisasi Umat Budha sedunia merujuk Candi Borobudur adalah salah satu tempat paling spiritual bagi agama Budha.

” Maka dari rekomendasi itu, perayaan Waisak lebih besar lagi,” ucap Gunawan.

Seperti diketahui, agama Budha sebelum tahun 1980 oleh pemerintah Indonesia tadinya hanya dianggap sebagai kepercayaan peninggalan nenek moyang atau bagian dari kultus animisme, serupa dengan sunda wiwitan, kejawen, parmalim, atau kaharingan.

Sampai di tahun 1980, agama Budha menjadi salah satu dari lima kepercayaan agama yang diakui oleh Pemerintah Indonesia sejak Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 35 tahun 1980.

Sampai dikukuhkan kembali di era Presiden Abdurahman Wahid era tahun 2000 an awal yang juga memasukkan Khong Huchu sebagai kepercayaan agama keenam di Indonesia.

Dengan dikukuhkannya Keppres Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967 tentang agama kepercayaan dan adat istiadat Cina, maka jumlah kepercayaan atau agama di Indonesia berubah menjadi enam.

Hingga kini, jumlah pemeluk agama Budha dari informasi data Badan Pusat Statistik BPS tahun 2024 lalu jumlah umat Buddha di Indonesia sekarang mencapai 2 juta jiwa atau 0,7% dari 281,6 juta jiwa penduduk Indonesia.***



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!