TEROPONGNEWS.COM, DEPOK – Polemik seputar pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menyulut perbincangan hangat publik, kali ini dipicu oleh sebuah video yang memperlihatkan percakapannya dengan seorang siswi SMA bernama Aura Cinta. Gadis belia itu merupakan korban penggusuran di Cikarang, Bekasi, yang mengungkapkan keinginannya mengikuti acara wisuda sekolah meskipun tengah dilanda krisis ekonomi.
Namun, respons Dedi justru menuai kontroversi luas, hingga akhirnya mengundang respons dari kalangan pelajar lain, termasuk dari wilayah Depok.
Video berdurasi lebih dari 10 menit itu diunggah di kanal Kang Dedi Mulyadi Channel pada 26 April 2025. Dalam tayangan tersebut, Aura siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara menyampaikan harapannya agar bisa mengikuti prosesi wisuda seperti teman-temannya.
Ia mengatakan bahwa wisuda bukan hanya sekadar seremoni, melainkan bentuk penghargaan atas perjuangan selama menempuh pendidikan dan menjadi momen perpisahan dengan teman serta guru.
Namun alih-alih menerima dengan empati, Dedi menanggapi dengan nada yang dianggap sinis. “Anda miskin, tapi jangan sok kaya,” katanya dalam video tersebut.
Ia menyarankan agar uang Rp 1,2 juta yang dibutuhkan untuk wisuda lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan hidup pokok seperti sewa tempat tinggal atau ditabung.
Tak berhenti di situ, Dedi bahkan menambahkan pernyataan yang makin memantik reaksi,”Tinggal saja di bantaran sungai, kenapa bergaya hidup seperti orang kaya?”
Pernyataan itu langsung menyulut reaksi keras di berbagai media sosial, terutama di platform X (dulu Twitter). Warganet terpecah dalam dua kubu. Sebagian mendukung Dedi karena dinilai realistis dan jujur dalam menyampaikan sudut pandangnya.
Namun tak sedikit pula yang menilainya sebagai sikap arogan, tidak empatik, dan menjatuhkan harga diri seseorang yang tengah berada di titik terendah kehidupannya.
Di tengah perdebatan itu, suara bernada kritis datang dari Ayu, seorang siswi SMA di kota Depok, yang ikut angkat bicara.
Dalam unggahan video pendek yang beredar di Instagram dan TikTok, Ayu menyampaikan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Gubernur Dedi yang dianggap terlalu berorientasi pada pencitraan di media sosial.
“Pak Gubernur tuh kerjanya banyak gaya. Katanya pimpin Jawa Barat, tapi lebih sibuk cari konten dan tenar di media sosial. Kita anak-anak SMA di Jabar ini butuh solusi, bukan disindir,” ujar Ayu dengan nada geram.Selasa (6/5/2025)
Menurutnya, sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas nasib lebih dari 50 juta penduduk Jawa Barat yang tersebar di 28 kota dan kabupaten, Dedi semestinya lebih fokus pada upaya menciptakan lapangan kerja dan pendidikan lanjutan bagi lulusan SMA yang belum memiliki masa depan pasti.
“Tolong dong, jangan gaya-gaya ala sendiri. Bapak itu Gubernur Jawa Barat, bukan selebgram,” lanjutnya.
Pernyataan Ayu mendapat respons hangat dari warganet lainnya yang merasa mewakili suara anak muda Jawa Barat. Banyak yang menilai kritiknya sebagai tamparan keras bagi pemerintah daerah yang dinilai terlalu sibuk membangun citra personal dibanding memberikan solusi nyata.
Di sisi lain, pengamat komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran, Dr. Yuni Astuti, menilai fenomena ini sebagai sinyal bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, kini lebih kritis dan berani bersuara terhadap figur publik.
“Pemimpin zaman sekarang tidak hanya dituntut berperforma, tapi juga dituntut punya empati dan komunikasi yang etis. Kalau mereka kehilangan itu, maka kehilangan legitimasi publik,” ujarnya.
Polemik ini menyisakan pelajaran penting tentang pentingnya komunikasi yang beretika dan empatik dalam kepemimpinan, terutama ketika berbicara kepada masyarakat yang sedang rentan. Di tengah zaman serba digital, setiap kata bisa jadi peluru, dan setiap pemimpin harus bijak menggunakannya.
Perdebatan ini belum berakhir. Namun, satu hal jelas,suara generasi muda Jawa Barat semakin lantang, dan mereka tak segan mengingatkan bahwa jabatan publik adalah amanah, bukan panggung pertunjukan. ***












