Opini

Membedakan Optimisme dan ‘Toxic Positivity’

×

Membedakan Optimisme dan ‘Toxic Positivity’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi harus memilih. (Dok Pri)

TEROPONGNEWS.COM – Di tengah kehidupan yang penuh tekanan dan perubahan cepat, kita sering mendengar anjuran untuk selalu berpikir positif, seperti “Think positive!” atau “Jangan sedih, tetap semangat!”. Kalimat-kalimat ini memang terdengar membangun dan memotivasi, namun di balik dorongan itu, terkadang terselip tekanan yang membuat seseorang merasa harus menekan atau bahkan menyangkal perasaan negatifnya sendiri.

Fenomena ini disebut toxic positivity suatu kondisi di mana seseorang memaksakan diri untuk selalu bersikap positif tanpa memberi ruang bagi emosi negatif yang wajar, seperti sedih, marah, atau kecewa. Mengutip dari Healthline dan Medical News Today, toxic positivity bukan hanya sekadar sikap optimis berlebihan, tapi juga bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Ini karena emosi negatif yang ditekan tidak dapat diproses dengan sehat, sehingga menimbulkan stres terpendam dan rasa isolasi.

Debyca Nabilah Dianti, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta. (Dok Pri)

Memaksakan kebahagiaan palsu justru menghambat proses penyembuhan diri dan pertumbuhan emosional. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara optimisme yang sehat yang memberi ruang pada semua emosi dengan toxic positivity yang berbahaya karena menolak kenyataan emosional.

Emosi Negatif Itu Perlu, Bukan Aib

Di masyarakat yang sering mengagungkan sikap “semangat terus” dan melabeli orang yang menunjukkan emosi negatif sebagai “lemah” atau “baper,” banyak yang salah kaprah menganggap emosi negatif adalah sesuatu yang harus dihindari atau disembunyikan. Padahal, emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, rasa kecewa, dan ketakutan adalah bagian alami dari pengalaman manusia.

Menurut Dr. Susan David, psikolog Harvard dan penulis buku Emotional Agility, menerima emosi negatif adalah kunci kesehatan mental dan ketahanan psikologis.

Mengutip wawancaranya di TED Talk dan artikel di Harvard Business Review, dia menegaskan bahwa menolak emosi negatif justru memperparah stres dan kebingungan batin. Sebaliknya, mengakui dan memvalidasi perasaan yang muncul memungkinkan seseorang untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan dan menghadapi tantangan hidup.

Emosi negatif bukanlah musuh yang harus dilawan atau disembunyikan, melainkan sinyal penting yang memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan, diperbaiki, atau dilepaskan. Dengan keberanian untuk duduk bersama perasaan sulit itu, kita bisa belajar banyak tentang diri sendiri dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh.

Optimisme Sehat Itu Realistis dan Seimbang

Optimisme yang sehat bukan sekadar berharap bahwa segala sesuatu akan berjalan mulus tanpa hambatan. Melansir Psychology Today, optimisme sejati adalah kemampuan untuk menerima kenyataan apa adanya, termasuk kesulitan dan ketidakpastian, sekaligus tetap memelihara harapan bahwa situasi bisa membaik.

Berbeda dengan toxic positivity yang memaksa kebahagiaan dan menyangkal emosi negatif, optimisme yang seimbang memberi ruang bagi perasaan sedih, kecewa, atau takut untuk hadir tanpa memaksakan diri selalu “bahagia” atau “kuat.” Sikap ini membantu kita beradaptasi dengan lebih fleksibel di tengah tekanan tanpa merasa harus menekan emosi atau menampilkan citra palsu.

Optimisme yang sehat adalah tentang menjaga keseimbangan antara pengakuan realitas dan keyakinan bahwa kita memiliki kemampuan untuk melewati masa sulit. Kita boleh merasakan luka, namun tidak menyerah pada keputusasaan. Dengan cara ini, optimisme menjadi sumber kekuatan sejati yang membimbing kita melalui liku kehidupan.

Belajar Menerima, Bukan Menyangkal Emosi

Menolak emosi negatif dan terus memaksakan diri untuk terlihat kuat atau bahagia bisa menimbulkan masalah serius, termasuk stres kronis, kelelahan emosional, dan gangguan mental seperti depresi. Sebuah riset dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa menekan emosi dapat menurunkan kualitas hubungan sosial dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental.

Sebaliknya, mengakui dan menghadapi emosi secara sadar adalah langkah penting menuju keseimbangan mental. Mengutip American Psychological Association, praktik seperti journaling, mindful breathing, dan berbicara dengan orang terpercaya membantu kita mengenali, merasakan, dan mengelola emosi dengan sehat.

  • Journaling memungkinkan kita menuangkan perasaan tanpa takut dihakimi, sehingga emosi menjadi lebih jelas dan terkelola.
  • Mindful breathing membantu kita tetap hadir di saat ini, mengamati perasaan tanpa reaksi berlebihan atau penghakiman.
  • Berbicara dengan teman atau profesional memberikan ruang aman untuk mengekspresikan emosi dan mendapat dukungan.

Dengan menerima emosi, bukan menyangkalnya, kita membangun ketahanan emosional yang sejati. Kita belajar mengendalikan perasaan, bukan dikendalikan olehnya, sehingga bisa menjalani hidup dengan keseimbangan, ketenangan, dan kebijaksanaan. ***



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!