TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA – Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Bun Joi Phiau mendorong percepatan pemasangan kubus apung di Kali Sunter sebagai upaya menghalau busa polusi agar tidak semakin meluas.
Diketahui, ada temuan busa yang muncul di aliran Kali Sunter, Jakarta Utara. Busa tersebut berasal dari Situ Ria Rio, Pulomas, Jakarta Timur, sebagaimana hasil verifikasi lapangan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bersama Suku DLH Jakarta Utara pada 19 Agustus kemarin.
Ia menilai, pencemaran kali harus segera ditangani agar tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi warga. Pasalnya, sebagian masyarakat Jakarta masih memanfaatkan kali sebagai sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK).
“Jangan sampai pencemaran ini berlanjut lebih lama lagi dan bahkan meluas karena bisa membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar kali tersebut. Lebih-lebih lagi, di Jakarta ini kali masih dijadikan tempat melakukan MCK,” ujar dia dalam keterangannya kepada Teropongnews.com, Kamis (21/8/2025).
Menurut Bun Joi, banyak warga berpotensi terdampak langsung dari polusi kali saat bersentuhan dengan airnya. Ia menegaskan, persoalan pencemaran jangan sampai berkembang menjadi masalah kesehatan publik.
Di sisi lain, Bun Joi juga meminta Pemprov DKI Jakarta mengusut sumber pencemaran. Jika ada bangunan yang melanggar aturan di kawasan hulu, kata dia, harus segera ditertibkan.
“Apabila ditemukan ada bangunan-bangunan yang melanggar regulasi di kawasan hulu, maka itu harus ditertibkan supaya tidak terus menimbulkan polusi di kawasan hilir,” ucap Bun Joi.
Selain itu, Politisi PSI itu menekankan, perbaikan infrastruktur pembuangan limbah yang rusak juga mendesak harus segera dilakukan.
“Masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemprov DKI karena menyangkut kesehatan banyak orang di Jakarta,” kata dia memungkasi.

Sebelumnya diberitakan, DLH DKI mengungkapkan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan kualitas air Situ sudah tercemar oleh kandungan organik dan surfaktan. Fenomena busa terjadi saat pompa di Rumah Pompa Polder Pulomas 1 (Kelapa Gading, Jakarta Utara) dan Pulomas 2 (Kayu Putih, Jakarta Timur) dinyalakan.
Menurut petugas, kala itu dilakukan pengosongan air Situ untuk mengantisipasi potensi hujan deras. Debit air yang tinggi memicu turbulensi sehingga busa meluap hingga ke Kali Sunter.
Untuk penanganan jangka pendek, DLH menyiapkan dua langkah utama. Pertama, pemasangan kubus apung di hilir outlet pompa 1 dan 2 pada jarak sekitar 100 meter. Instalasi ini bertujuan mencegah penyebaran busa lebih luas dan ditargetkan selesai pada 30 Agustus mendatang.
Kedua, petugas akan melakukan penyemprotan busa menggunakan metode high pressure spraying dengan tekanan 7–9 Bar sesuai standar operasional. DLH juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air (DSDA) dan pengelola rumah pompa agar langkah responsif bisa segera dilakukan setiap kali pompa beroperasi.
“Langkah yang kami ambil bukan hanya penanganan sesaat, tetapi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas air di Jakarta,” ujar Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (21/8/2025).
Selain itu, identifikasi sumber pencemar di sekitar Situ Ria Rio tengah berlangsung.
Untuk jangka panjang, DLH akan berkoordinasi dengan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku pengelola Situ Ria Rio. Rencana pemulihan kualitas air mencakup metode fisik maupun biologis untuk menguraikan polutan organik dan surfaktan yang memicu timbulnya busa. ***












