BeritaDaerahNasional

Satu Abad Injil Masuk Wondama : Kebangkitan Orang Asli Papua dan Masa Depan Pembangunan Tanah Papua

×

Satu Abad Injil Masuk Wondama : Kebangkitan Orang Asli Papua dan Masa Depan Pembangunan Tanah Papua

Sebarkan artikel ini
Oleh: Muhammad G. Tafalas. Intelektual Muslim Papua Barat Daya

TEROPONGNEWS.COM, MANOKWARI – Seratus tahun telah berlalu sejak cahaya Injil pertama kali menerangi tanah Wondama. Di teluk yang tenang di pesisir Papua Barat, para pekabar Injil datang bukan dengan pedang, melainkan dengan kasih. Mereka menanam benih iman yang kemudian tumbuh menjadi pohon kehidupan, menaungi generasi demi generasi Orang Asli Papua.

Namun peringatan satu abad Injil masuk Wondama bukan sekadar acara keagamaan. Bagi sebagian pemikir dan tokoh lintas iman, peristiwa ini adalah momen refleksi peradaban. Salah satunya datang dari intelektual Muslim Papua Barat, Muhammad G. Tafalas, yang menilai bahwa sejarah Injil di Wondama adalah ―awal kesadaran baru manusia Papua tentang pendidikan, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial.

“Saya melihat Injil masuk Wondama bukan hanya bagian dari sejarah gereja, tetapi juga bagian dari sejarah kebangkitan manusia Papua. Injil memperkenalkan literasi, pelayanan kesehatan, dan moralitas sosial yang membentuk dasar peradaban Papua modern,” ujar Tafalas dalam catatan refleksinya.

Iman yang Melahirkan Ilmu dan Kesadaran

Kehadiran Injil di Wondama pada awal abad ke-20 telah melahirkan transformasi besar. Dari gereja-gereja sederhana, lahir sekolah dan pusat pelayanan sosial pertama di Papua bagian barat. Injil bukan sekadar kabar keselamatan, tetapi pemantik perubahan sosial.

Tafalas menilai, nilai-nilai Injil seperti kasih, kejujuran, dan kerja keras sejatinya bersifat universal. Ia menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Al-Qur‘an.

“Baik Islam maupun Injil sama-sama menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus berpikir, bekerja, dan berbuat baik untuk sesamanya. Injil mengajarkan kasih, Islam mengajarkan rahmat. Keduanya bertemu dalam semangat kemanusiaan,” tulisnya.

Ia menilai bahwa seratus tahun Injil masuk Wondama juga menjadi tonggak kebangkitan moral dan spiritual Tanah Papua, yang harus diterjemahkan ke dalam semangat membangun manusia, bukan sekadar infrastruktur.

Dari Iman Menuju Pembangunan

Kini, tantangan Papua bukan lagi tentang menerima Injil, melainkan menghidupi nilai-nilainya dalam konteks pembangunan modern.

Menurut Tafalas, pembangunan yang sejati tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kualitas moral dan karakter manusia. Pembangunan yang benar adalah pembangunan yang memanusiakan manusia.

“Jalan dan jembatan bisa dibangun, tetapi tanpa kejujuran dan kasih, semua itu rapuh. Papua harus membangun manusia yang beriman, berilmu, dan beretika,” tegasnya.

Ia menilai nilai-nilai Injil memiliki kesamaan dengan ajaran Islam dalam hal pembangunan moral dan tanggung jawab sosial.

Dalam Islam, pembangunan disebut “imaratul ard” membangun bumi dengan nilai keadilan dan kasih sayang. Itulah yang saya lihat di Wondama.

“Injil datang bukan untuk memecah, tetapi untuk membangun. Kini tugas generasi muda Papua, baik Muslim maupun Kristen, adalah melanjutkan misi itu dalam bentuk pembangunan manusia dan
peradaban,” tambahnya.

Kebangkitan Orang Asli Papua

Dalam refleksinya, Tafalas menegaskan bahwa peringatan satu abad Injil juga harus menjadi momen kebangkitan Orang Asli Papua (OAP). Kebangkitan OAP bukan hanya soal ekonomi, tetapi kesadaran untuk menjadi pelaku utama pembangunan di tanah sendiri.

“Kita tidak boleh terus berada di pinggiran sejarah. Injil telah menyalakan api kesadaran, kini saatnya kita berjalan dengan cahaya itu,” ujarnya.

Menurutnya, kebangkitan OAP adalah cita-cita bersama seluruh masyarakat Papua, tanpa memandang agama. Islam dan Kekristenan, katanya, harus berjalan berdampingan membangun masyarakat yang berkeadilan dan berdaya.

“Papua ini rumah bersama. Iman kita boleh berbeda, tetapi tanggung jawab kita sama: membangun manusia yang jujur, damai, dan mencintai tanah ini,” tulis Tafalas dalam esainya.

Wondama: Lentera dari Timur

Bagi Tafalas, Wondama adalah simbol pencerahan dari Timur. Dari sinilah cahaya iman dan pengetahuan memancar ke seluruh Tanah Papua.

“Dari Wondama kita belajar bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari pusat kekuasaan, tetapi dari tempat yang bersujud dan melayani. Injil yang datang ke Wondama telah menanamkan nilai. pengabdian yang melintasi agama,” ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa tantangan pembangunan Papua ke depan harus dijawab dengan sinergi lintas iman.

“Persaudaraan antara umat Kristen dan Muslim di Papua harus menjadi fondasi pembangunan sosial. Persatuan spiritual adalah kekuatan moral yang tak tergantikan,”ujarnya.

Iman yang Menyatukan dan Membangun

Dalam penutup refleksinya, Muhammad G. Tafalas menulis bahwa iman sejati tidak memisahkan, tetapi menyatukan. Seratus tahun Injil di Wondama adalah seratus tahun cahaya kemanusiaan di Tanah Papua.

Kini cahaya itu harus dijaga oleh kita
semua umat Kristen, Muslim, dan seluruh anak bangsa. Sebab tanah yang diberkati ini hanya akan makmur bila dibangun di atas kasih dan kejujuran.

Bagi Tafalas, perayaan satu abad Injil masuk Wondama bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi membangun masa depan yang berakar pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.

“Dari Wondama, terang Injil telah dinyalakan. Kini tugas kita adalah menjaga agar terang itu tak padam menerangi Papua yang damai, berdaya, dan bermartabat,” pungkasnya mengakhiri.



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!