DaerahHukumNasional

Tegar Prastya Raih Trophy for Humanity, Wujud Empati dalam Penegakan Hukum Indonesia

×

Tegar Prastya Raih Trophy for Humanity, Wujud Empati dalam Penegakan Hukum Indonesia

Sebarkan artikel ini

TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA — Malam puncak Simfoni Perdamaian – Journey of Empathy yang digelar di Studio Grand Metro TV menjadi ajang penuh makna bagi dunia kemanusiaan, media, hingga penegakan hukum di Indonesia. Salah satu sorotan utamanya adalah penganugerahan Trophy for Humanity kepada Tegar Prastya, S.H., Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Sikka.

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, S.H., M.M., dalam prosesi yang berlangsung haru dan membanggakan. Momen itu tak hanya mengharumkan nama sang penerima, tetapi juga merepresentasikan nilai kemanusiaan yang kini semakin mengakar dalam kerja-kerja Kejaksaan.

Simfoni Perdamaian disusun dalam rangkaian segmen yang memadukan pertunjukan musik, narasi empati, serta refleksi perjalanan 25 tahun Metro TV. Seluruh rangkaian dibangun untuk menegaskan satu pesan utama: empati adalah bahasa universal yang mampu menyatukan manusia.

Dalam segmen penganugerahan, sang host menyampaikan pesan inspiratif yang mencerminkan esensi acara:

“Setiap tokoh yang kita temui malam ini punya cerita yang menginspirasi.

Mereka yang bekerja dalam senyap, menyalakan empati di tengah gelap.

Malam ini, kita rayakan mereka, para penjaga nilai kemanusiaan.”

Tegar Prastya menjadi satu dari sejumlah tokoh kemanusiaan yang menerima penghargaan malam itu, berdampingan dengan figur dari kepolisian, TNI, jurnalis senior, hingga pekerja publik yang menunjukkan dedikasi tanpa pamrih.

Trophy for Humanity yang diterima Tegar Prastya bukan sekadar apresiasi bagi seorang jaksa, tetapi simbol dari arah baru penegakan hukum Indonesia yang lebih berempati, humanis, dan memihak pada pemulihan sosial.

Bagi Kejaksaan Negeri Sikka dan Kejaksaan Republik Indonesia secara umum, penghargaan ini menjadi penguatan terhadap komitmen institusi: menghadirkan keadilan yang tidak hanya menghukum, tetapi juga memahami konteks dan masa depan para pihak yang terlibat.

Penghargaan ini menegaskan bahwa penyelesaian perkara harus mengutamakan prinsip pemulihan, yaitu: memulihkan hubungan sosial, memulihkan keseimbangan dalam masyarakat, dan memulihkan kepercayaan publik terhadap hukum.

Lebih jauh, Trophy for Humanity mengokohkan nilai empati sebagai kekuatan moral Kejaksaan. Empati dipandang bukan sebagai kelemahan, melainkan elemen penting yang membuat hukum lebih relevan, dekat dengan masyarakat, dan mampu menjembatani konflik.

Melalui figur seperti Tegar Prastya, Kejaksaan menunjukkan bahwa penegakan hukum yang baik adalah hukum yang dapat merasakan denyut kehidupan masyarakat serta memberi ruang bagi keadilan restoratif untuk bekerja.

Acara Simfoni Perdamaian ditutup dengan pesan reflektif yang menggugah, bahwa di tengah perbedaan, empati adalah jembatan yang menyatukan. Metro TV bersama para tokoh kemanusiaan dan Kejaksaan RI sepakat bahwa kekuatan sejati bukan pada suara yang paling keras, melainkan pada suara yang paling tulus mendengar.

“Mari terus menyalakan empati agar dunia tetap memiliki harmoni.”

 

 



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!