TEROPONGNEWS.COM, DEPOK – Setelah menuntaskan penelitian selama empat bulan di Kawasan Transmigrasi Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) kolaborasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Kedokteran merilis tiga rekomendasi kunci untuk mempercepat pengembangan komoditas unggulan daerah.
Riset yang dilakukan sejak Agustus hingga Desember 2025 itu menyoroti persoalan mendasar pada sektor kopi robusta, padi lokal, dan komoditas hortikultura seperti durian serta semangka. Temuan utama difokuskan pada restrukturisasi produksi, penguatan branding komoditas unggulan, serta perbaikan rantai nilai (value chain) agar petani transmigran mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
Laporan tim mencatat bahwa rendemen dan produktivitas kopi robusta masih berada pada kisaran 0,3–0,4 ton/hektare, jauh di bawah potensi optimal robusta yang bisa mencapai 0,8 ton/hektare. Serangan hama, minimnya penyuluh lapangan, serta sulitnya akses menuju kebun disebut sebagai hambatan terbesar di lapangan.
Selain kopi, tim juga memetakan peluang komoditas padi lokal khususnya di SKP C yang ternyata memiliki permintaan tinggi, terutama pada perhelatan Lamandau Expo. Padi tersebut ditanam tanpa pupuk maupun pestisida, memiliki aroma wangi serta ukuran bulir kecil, sehingga menjadi daya tarik pasar.
Beberapa offtaker nasional disebut siap menyerap produksi padi dan kopi Lamandau jika kualitas dan volume memenuhi standar. Peluang ini bahkan diprediksi mampu menaikkan pendapatan petani hingga 30–40 persen.
Untuk memperkuat pemahaman bersama dan menyelaraskan arah kebijakan, tim menggelar Focus Group Discussion (FGD)di Aula Setda Kabupaten Lamandau. Pertemuan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, dan perwakilan transmigran.
Dalam forum itu, dua topik utama dipaparkan: Evaluasi menyeluruh kawasan transmigrasi dan desain pengembangan komoditas unggulan untuk enam SKP.
Asisten Administrasi Perekonomian, Pembangunan dan SDA Pemkab Lamandau, Dr. Meigo, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa riset semacam ini sangat menentukan arah pembangunan daerah.
“Kami memerlukan masukan, validasi data, dan sumbang saran yang konstruktif. Data yang baik harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang baik dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Meigo Selasa (9/12/2025).
Sementara Kepala Disnakertrans Lamandau, Atie Dieni, S.Sos., M.A.P., memastikan bahwa kopi robusta tetap menjadi komoditas prioritas daerah.
“Kopi harus tetap menjadi komoditas berkelanjutan dan prioritas utama. Kami mendapat dukungan APBN untuk pengadaan bibit unggul, ditambah komitmen offtaker industri besar,” tegasnya.
Riset UI menyoroti sejumlah hambatan teknis yang perlu segera dibenahi. Di antaranya: Kondisi jalan rusak yang memperlambat logistik dan distribusi hasil panen; Belum adanya sentra pasca-panen, seperti solar dryer untuk pengeringan kopi; Tidak adanya standar mutu atau grade sehingga harga jual tidak stabil; Rantai pasok yang panjang menyebabkan harga di tingkat petani fluktuatif; dan Keterbatasan penyuluh lapangan, membuat petani minim pendampingan teknis.
Tim menyimpulkan bahwa tanpa perbaikan infrastruktur dasar dan fasilitas pasca-panen, komoditas unggulan Lamandau sulit mencapai skala ekonomi yang kompetitif.
Pengembangan kopi Lamandau dinilai sejalan dengan strategi nasional Kementerian Transmigrasi dalam mendorong komoditas bernilai tambah sebagai mesin pertumbuhan ekonomi daerah. Tren konsumsi kopi nasional yang meningkat 7–8 persen per tahun menjadi peluang besar bagi transmigran sebagai produsen.
Selain itu, pola tanam kopi melalui agroforestri terbukti membantu menjaga tutupan hutan Belantikan Raya, yang merupakan bentang alam penting di Kalimantan Tengah. Hal ini menjadikan pengembangan kopi bukan hanya menguntungkan ekonomi, tetapi juga mendukung agenda green economy.
Pemkab Lamandau menilai bahwa percepatan pengembangan kawasan transmigrasi membutuhkan perhatian khusus pemerintah pusat. Mulai dari pembangunan jalan produksi, penguatan pelatihan SDM secara berkala, hingga dukungan hilirisasi agar petani tidak terus menjual biji mentah.
Dengan dukungan berlapis dari pusat, daerah, dan akademisi, Pemkab Lamandau menargetkan bahwa tujuh SKP di wilayah tersebut dapat mencapai kemandirian ekonomi berbasis komoditas unggulan dalam 3–5 tahun mendatang.
Rangkaian kegiatan Ekspedisi Patriot UI ini menjadi bukti bahwa kolaborasi kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu menghadirkan perencanaan pembangunan transmigrasi yang lebih terukur, berbasis data, dan berorientasi masa depan.***












