BeritaBisnisDaerahEkonomi

Dulu Menumpang di Rumah Tetangga, Kini Mama Nyaman Menganyam Bersama di Rumah Anyam

×

Dulu Menumpang di Rumah Tetangga, Kini Mama Nyaman Menganyam Bersama di Rumah Anyam

Sebarkan artikel ini

TEROPONGNEWS.COM, LARANTUKA — Tahun Baru membawa harapan dan semangat baru bagi para mama penganyam di Desa Bubuatagamu, Pulau Solor, Flores Timur. Sejak dibangun pada Februari 2025, rumah anyam di desa ini kini hadir sebagai ruang bersama yang nyaman untuk bekerja, belajar, sekaligus mempererat kebersamaan para mama penganyam lontar.

Bagi Mama Marlin, salah satu mama penganyam di Desa Bubuatagamu, kehadiran rumah anyam menjadi perubahan besar dalam keseharian mereka. Bangunan berdinding kokoh ini bukan sekadar tempat menganyam, tetapi juga ruang untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan keterampilan, hingga mengelola koperasi bersama.

“Dulu kami menganyam di mana-mana, kadang menumpang di rumah tetangga. Sekarang memang masih menganyam di rumah masing-masing, tapi kalau mau belajar motif baru, kami bisa kumpul di rumah anyam. Yang sudah bisa ajari yang belum bisa. Kalau salah, kami ketawa sama-sama. Jadi kami makin dekat,” ujar Mama Marlin sambil tersenyum.

Rumah anyam Desa Bubuatagamu dibangun oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) melalui program “BNI Berbagi: Menganyam Kebaikan untuk Indonesia” yang berkolaborasi dengan Yayasan Karya Dua Anyam (YKDA).

Kehadirannya menjadi jawaban atas kebutuhan ruang bersama yang layak bagi para mama penganyam yang sebelumnya mengandalkan rumah pribadi atau kerabat untuk berkegiatan.

Selain sebagai tempat bekerja, rumah anyam juga berfungsi sebagai ruang publik bagi warga desa.

Di tempat ini, warga dapat bersosialisasi, menggelar pertemuan, hingga melaksanakan berbagai kegiatan komunal yang memperkuat rasa kebersamaan dan kekeluargaan.

Berlokasi di Dusun 1 RT 2 RW 1, Desa Bubuatagamu, rumah anyam ini dilengkapi dengan ruang penyimpanan bahan baku, ruang kerja, ruang sortir anyaman, serta ruang pertemuan. Dengan kapasitas hingga 20 orang, rumah anyam ini dimanfaatkan oleh tim bahan baku sekaligus memberi manfaat bagi 437 mama penganyam dan 237 pemanjat lontar. Lebih jauh lagi, rumah anyam menjadi ruang bersama bagi komunitas penganyam dan warga desa.

“Mama harap rumah anyam ini bikin kami makin nyaman kerja. Dan semoga banyak kegiatan baik bisa dilakukan di sini, supaya kami makin dekat dan produktif,” tambah Mama Marlin.

Inisiatif pembangunan rumah anyam ini menjadi tonggak penting bagi perjalanan para mama penganyam di Desa Bubuatagamu. Menganyam lontar merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Lamaholot, yang tidak hanya merepresentasikan identitas dan ketekunan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak perempuan di Pulau Solor dan Flores Timur.

“Kami dengar anyaman kami sudah sampai ke luar negeri. Bangga, le. Tapi yang paling penting, dari menganyam saya bisa punya uang sendiri. Bisa bantu suami, bayar sekolah anak, dan beli kebutuhan rumah. Itu yang bikin saya paling bersyukur,” tutur Mama Marlin.

Kini, belasan mama penganyam yang sebelumnya menumpang di rumah-rumah tetangga memiliki ruang publik yang nyaman untuk digunakan lima hari dalam seminggu. Rumah anyam ini juga menumbuhkan semangat baru untuk belajar, berinovasi, dan menghasilkan produk anyaman yang lebih beragam.

Tak hanya fokus pada pemberdayaan ekonomi, BNI bersama YKDA juga menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan fasilitas pipanisasi air bersih di 30 titik di Desa Bubuatagamu, yang terdiri dari 20 titik di sekitar rumah warga dan 10 titik di fasilitas umum seperti sekolah, gereja, dan rumah anyam.

Berkat program ini, 263 keluarga kini memiliki akses air bersih yang lebih mudah, terutama di tengah tantangan musim kemarau.

BNI juga menjalankan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi 98 anak di Desa Bubuatagamu dan Lewograran selama 14 hari.

Program ini dilaksanakan bersama pemerintah desa, bidan, dan kader posyandu dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Hasil pemantauan menunjukkan perbaikan status gizi anak, dengan peningkatan persentase anak bergizi normal dan penurunan jumlah anak yang mengalami gangguan pertumbuhan.

Untuk memperkuat kemandirian usaha para mama penganyam, berbagai pelatihan turut digelar, mulai dari pelatihan manajemen usaha dan keuangan yang diikuti 75 peserta hingga pelatihan menganyam yang melibatkan 430 mama penganyam.

Upaya ini diperkuat dengan pembentukan Koperasi Serba Usaha Ina Senaren, yang mencakup usaha produksi anyaman, jasa pelatihan, hingga layanan keuangan sederhana dan kini tengah memroses legalitas badan hukumnya.

Rangkaian program ditutup dengan Kegiatan Menganyam Bersama (KMB) yang digelar pada 17 Desember 2025 di Kantor Desa Bubuatagamu. Ratusan mama penganyam hadir, menegaskan peran penting perempuan dalam menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga.

“Kalau ada KMB, mama senang. Bisa ketemu mama-mama lain, ngobrol, dan tidak bosan kerja sendiri di rumah,” ujar Mama Marlin.

Program kolaboratif BNI dan YKDA ini diproyeksikan memberi manfaat bagi lebih dari 2.000 jiwa di Flores Timur melalui pendekatan pemberdayaan yang terintegrasi pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Melalui rangkaian program “BNI Berbagi: Menganyam Kebaikan Untuk Indonesia ”, inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup, kemandirian, serta masa depan para mama penganyam dan komunitasnya.

 



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!