TEROPONGNEWS.COM, SORONG – Mantan Wali Kota Sorong dua periode (2012–2017 dan 2017–2022), Lamberthus Jitmau, mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur atas Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kota Sorong sekaligus menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi perjalanan pembangunan daerah.
Menurutnya, di usia 26 tahun, sebuah kota sudah memasuki fase kedewasaan, layaknya manusia yang telah mampu menentukan arah dan bertanggung jawab atas masa depannya.
“Usia 26 tahun itu usia yang matang. Kota ini tidak jatuh dari langit. Semua yang ada hari ini lahir dari keberanian mengambil keputusan dan bekerja untuk masyarakat,” ujarnya kepada Pers, Sabtu (28/2/2026).
Jitmau menegaskan bahwa kemajuan Kota Sorong dibangun melalui langkah-langkah strategis yang membutuhkan keberanian, terutama dalam pengambilan kebijakan besar.
Ia mencontohkan pembangunan dua jalur Jalan Kilometer 12 hingga Kilometer 18 yang menelan biaya ganti rugi lahan lebih besar dibanding pembangunan fisiknya.
Selain itu, penataan Bandara Deo Sorong juga menjadi salah satu tonggak penting.
Ia mengaku melakukan pembebasan lahan dengan anggaran puluhan miliar rupiah, meski saat itu APBD Kota Sorong masih di kisaran Rp700 miliar.
“Kalau tidak berani, perubahan tidak akan terjadi. Kota Sorong ini pintu gerbang Tanah Papua. Semua barang masuk lewat udara dan laut di sini,” tegasnya.
Penataan pelabuhan, reklamasi pantai seluas kurang lebih 50 hektare yang kini menjadi ikon baru kota, hingga pembangunan stadion dalam waktu delapan bulan juga disebut sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur.
Di bidang pelayanan dasar, ia menyebut telah membangun kantor distrik dua lantai, puskesmas di seluruh distrik, serta mengangkat 62 dokter, termasuk 22 dokter spesialis, guna meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.

Penataan Pasar Ikan Dom dan sejumlah fasilitas umum lainnya juga menjadi bagian dari transformasi wajah kota selama masa kepemimpinannya.
Jitmau mengingatkan bahwa pembangunan tidak bisa berjalan jika masih ada perpecahan.
Ia mengajak seluruh elemen, termasuk para pemimpin ke depan, untuk menanggalkan perbedaan politik dan bersatu membangun kota.
“Jangan datang hanya menikmati sejarah. Kalau bisa, jadilah pelaku sejarah. Rangkul semua, karena membangun kota ini tanggung jawab bersama,” pesannya.
Ia juga menyampaikan bahwa selama 10 tahun kepemimpinannya, kondisi keamanan relatif terkendali dan pertumbuhan ekonomi Kota Sorong disebut mencapai 8,7 persen.
Di usia ke-26 ini, ia berharap Kota Sorong terus melaju sebagai kota termaju di Tanah Papua dan menjadi pusat pertumbuhan bagi wilayah Papua Barat Daya serta daerah sekitarnya.






