TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA – Masih ingatkah kira-kira beberapa bulan lalu begitu antusiasnya beberapa negara di dunia tergabung dalam aliansi BRICS, meliputi Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Mereka ini sangat menggebu berupaya penggantian dolar yang biasanya digunakan sebagai mata uang transaksi bilateral.
Tujuannya adalah untuk melepaskan ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat. Mata uang US dolar ini masih menjadi mata uang yang dominan untuk digunakan sebagai perdagangan internasional sehingga negara-negara tersebut di atas berupaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
Fenomena dedolarisasi terjadi karena akibat tingginya inflasi, serta ketidakpastian global, salah satu sebabnya karena dalam beberapa tahun terakhir Amerika Serikat mengalami defisit neraca pembayaran sehingga mengakibatkan mata uang Amerika Serikat sangat fluktuatif dan sensitif terhadap isu global.
Dedolarisasi Hanya Sebuah Mimpi
Dedolarisasi hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Mengapa demikian? Pertanyaannya jika bukan dolar lalu apa? Gagasan bahwa dolar kini ditakdirkan untuk kehilangan status mata uang internasionalnya, adalah sangatlah tidak benar. Jika dolar mempunyai masalah, begitu pula para pesaingnya.
Euro adalah mata uang tanpa stempel negara. Ketika kawasan euro mengalami masalah ekonomi dan keuangan, seperti yang terjadi pada tahun 2010, tidak ada lembaga eksekutif yang memiliki kewenangan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang ada hanyalah kumpulan pemerintah nasional yang lebih cenderung menjadi calo bagi konstituen dalam negerinya.
Satu-satunya lembaga kawasan euro yang mampu mengambil tindakan cepat adalah ECB. Artinya jika mengambil tindakan cepat, yaitu tindakan mencetak uang untuk memonetisasi utang pemerintah, maka hal ini justru bukanlah sesuatu yang akan menginspirasi kepercayaan dan penggunaan euro secara internasional. “The renminbi, for its part, is a currency with too much state”. Akses ke pasar keuangan Tiongkok dan penggunaan mata uang internasional dibatasi oleh kontrol yang ketat dari pemerintah. Sedangkan Special Drawing Rights adalah uang yang tidak ditetapkan sebagai mata uang.
Mengapa demikian, karena faktanya, SDR ini bukan mata uang. SDR tidak digunakan untuk menagih dan menyelesaikan perdagangan atau transaksi keuangan pribadi. Akibatnya, hal ini tidak terlalu menarik untuk digunakan oleh pemerintah sebagai transaksi.
Apapun kegagalan Amerika, masih tetap merupakan negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Ia memiliki pasar keuangan terbesar di antara negara mana pun. Demografinya menunjukkan prospek pertumbuhan yang relatif baik.
Alasan Amerika tampil begitu istimewa dalam keuangan global bukan hanya karena ukuran ekonominya yang besar, faktanya bahwa hal ini telah memupuk serangkaian institusi: pemerintahan yang demokratis yang terbuka dan transparan, telah menciptakan rasa percaya diri terhadap institusi publik, memiliki pasar keuangan terbesar di antara negara mana pun, kerangka supremasi hukumnya tegas dan jelas, lembaga eksekutif pun tunduk pada ketentuan hukum.
Meskipun AS memiliki segala kekurangan, namun masih tetap menjadi standar bagi dunia. Kalangan investor asing semakin yakin bahwa mereka akan diperlakukan secara adil jika mereka berinvestasi di AS.
Jadi jangan berharap siapapun dapat mengganti greenback dengan mata uang lain sebagai cadangan internasional dalam waktu dekat, tidak peduli seberapa tinggi defisit pemerintah federal AS.
Dolar Tak Tergoyahkan
Dominasi dolar tetap ada dan kuat, bahkan ketika perekonomian Amerika Serikat terlihat semakin rentan, karena tingkat utang publik yang semakin tinggi dan terus meningkat.
Perpecahan politik yang mendalam di Amerika Serikat menghalangi solusi, yang dapat membantu mengatasi masalah, defisit dan hutang jangka panjang dengan cara yang rasional bahwa jangkar utamanya terapung di perairan yang dangkal dan terus berubah, seharusnya menimbulkan tanda bahaya mengenai stabilitas sistem moneter global.
Tentu saja, siapapun dapat berargumentasi dengan baik bahwa keadaan akan menjadi jauh lebih buruk jika tidak ada mata uang cadangan bersama yang diterima secara luas dan seragam serta dipercaya oleh para investor di seluruh dunia.
Mata uang seperti itu perlu didukung oleh lembaga yang terpercaya dan dihormati. Bank Sentral AS, The Fed, kini dipandang sebagai lembaga yang mempunyai kemampuan yang tangguh untuk mencegah kehancuran sistem keuangan global. Kemampuannya untuk mengeluarkan dolar dalam jumlah yang tidak terbatas ketika pasar keuangan membutuhkannya telah mengubah The Fed menjadi pemberi pinjaman pilihan terakhir yang kredibel tidak hanya bagi sistem keuangan AS namun juga bagi dunia secara keseluruhan.
Mungkin dolar telah menjadi perekat yang sangat diperlukan dan menyatukan sistem moneter internasional, tidak peduli suka atau tidak. Jangan pernah berpikir kita bisa hidup tanpa adanya dolar AS. Di atas semua fakta sederhana bahwa meskipun terdapat celaan terhadap kemunduran AS. Selain itu, dolar memiliki keuntungan dari jabatan petahana.
Oleh sebab itu “hegemoni dolar” tidak bisa dilawan, walaupun banyak negara-negara berambisi dengan dedolarisasi, semua itu hanya mimpi belaka tentu juga masih panjang dan bergelombang jalannya.
Mimpi Dedolarisasi Terhadap Hegemoni Dolar AS












