TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove dalam aksi rehabilitasi pesisir, Kamis (22/5/2026). Kegiatan ini digelar bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026 sebagai bentuk komitmen menjaga ruang hidup pulau kecil.
Aksi melibatkan mahasiswa dari 20 kelompok Mahasiswa Pecinta Alam dan BEM, Kelompok Perempuan Pulau Pari (KPPP), serta Forum Peduli Pulau Pari (FPPP). Rangkaian kegiatan meliputi kajian sosial-ekologi pra-penanaman, pelatihan rehabilitasi, penanaman, hingga monitoring.
“Rangkaian aksi rehabilitasi mangrove ini merupakan kerja bersama warga dan orang muda dalam menjaga keanekaragaman hayati pesisir dan membangun ketangguhan ekosistem pulau kecil terhadap perubahan iklim,” kata Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Laut dan Pesisir Eksekutif Nasional WALHI.
Pulau Pari yang memiliki luas 41,32 hektare selama ini terdampak alih fungsi kawasan dan krisis iklim. WALHI mencatat kerusakan mangrove telah mengancam penghidupan warga dan meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim.
Kajian yang dilakukan WALHI bersama akademisi menemukan 7 jenis mangrove di Pulau Pari, antara lain Api-api, Lindur, Buta-buta, Teruntum putih, Bakau kecil, Pedada, dan Nyirih batu. Penanaman menggunakan metode rumpun berjarak dengan jenis dominan Rhizophora stylosa atau bakau kecil.
Selain penanaman, warga dan mahasiswa dilatih mengidentifikasi jenis mangrove, teknik tanam, dan pemantauan. Sistem monitoring berbasis _citizens science_ juga dikembangkan untuk mencatat pertumbuhan mangrove.
“Pulau Pari adalah ruang hidup kami. Pemerintah perlu menghentikan perusakan mangrove dan memastikan perlindungan bagi pulau kecil serta hak masyarakat pesisir,” tegas Asmania, Ketua KPPP.
Warga berharap Kementerian Kelautan dan Perikanan mengambil kebijakan lebih kuat untuk melindungi ekosistem Pulau Pari. Bagi mereka, menanam mangrove adalah upaya menjaga keberlanjutan ekonomi dan ruang hidup. ***












