Opini

PSIM Yogyakarta: Kebangkitan yang Lebih dari Sekadar Sepak Bola

×

PSIM Yogyakarta: Kebangkitan yang Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Share this article
Puspita Wijayanti (Dokter, Aktivis Sosial, Founder Gapapa Project). Foto: ist.

Oleh: Puspita Wijayanti

Ada klub yang lahir dari ambisi. Ada klub yang tumbuh dari uang. Tapi ada juga klub yang menjadi bagian dari nadi sebuah kota, mengalir dalam ingatan warganya, hidup di setiap sudutnya. PSIM Yogyakarta adalah yang terakhir.

Bagi sebagian orang, sepak bola hanyalah permainan. Bagi Yogyakarta, PSIM adalah perjalanan. Klub ini telah berdiri sejak 1929, lebih tua dari Republik ini sendiri. Di masal kolonial, ketika sepak bola masih menjadi hak eksklusif bangsa Eropa, PSIM hadir sebagai simbol bahwa rakyat pribumi juga bisa memiliki harga diri. Sejak saat itu, ia bukan sekadar tim, melainkan kebanggaan yang diwariskan lintas generasi.

Namun, kebanggaan tidak selalu berjalan mulus. Dua dekade terakhir adalah masa-masa paling sulit. PSIM terjebak dalam ketidakpastian, berjuang di liga yang bukan tempatnya, berkali-kali mencoba naik, berkali-kali pula gagal. Stadion Mandala Krida tetap ramai, suporter tetap datang, tapi harapan terasa seperti angin di musim kemarau, panas, mengering, dan kadang menghilang.



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!