Ekonomi

Survei Ungkap Alarm Finansial: Masyarakat Beralih dari Investasi ke Bertahan Hidup

×

Survei Ungkap Alarm Finansial: Masyarakat Beralih dari Investasi ke Bertahan Hidup

Sebarkan artikel ini
Managing Partner Inventure, Yuswohady, saat memaparkan materi dalam acara Business Outlook 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025). Foto: Mohammad Ivan/TN

TEROPONGNEWS.COM, JAKARTA – Ketahanan finansial rumah tangga Indonesia mulai berada dalam posisi rawan seiring perlambatan ekonomi berkepanjangan atau dormant economy. Survei Inventure–Alvara 2025 terhadap 600 responden menunjukkan tiga indikator utama yakni, pendapatan, tabungan, dan investasi yang kompak mengalami tekanan, memaksa masyarakat beralih pada pola hidup lebih hemat dan penuh kehati-hatian.

Dalam kategori tabungan, 35% responden mengaku mengalami penurunan, sementara hanya 10% yang mencatat peningkatan. Kondisi lebih tajam terlihat pada sisi investasi, dengan 40% responden menyatakan investasinya turun dan hanya 7% yang mengalami kenaikan. Pergeseran ini menunjukkan prioritas publik berubah dari akumulasi aset jangka panjang menuju pemenuhan kebutuhan harian serta menjaga arus kas tetap aman.

Managing Partner Inventure, Yuswohady, menegaskan perubahan ini sebagai cerminan transformasi perilaku konsumsi di era tekanan ekonomi.

“Penurunan tabungan, merosotnya investasi, dan pendapatan yang stagnan telah memaksa masyarakat masuk ke mode bertahan. Konsumen kini berubah menjadi frugal consumer, lebih hemat, lebih kritis, dan menuntut nilai nyata dari setiap pengeluaran,” ujarnya dalam Media Briefing Business Outlook 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025).

Tekanan serupa juga tampak pada aspek pendapatan. Meski 55% responden menilai pendapatannya tetap dan cukup, terdapat 14% responden yang menyebut pendapatannya tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Situasi ini memperlihatkan bahwa kestabilan pendapatan tidak otomatis menjamin kemampuan memenuhi kebutuhan, terutama ketika biaya hidup terus meningkat.

Di sisi bersamaan, CEO Alvara Research Center, Hasannudin Ali, menilai fenomena ini sebagai respons realistis masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi.

“Data survei menunjukkan ketahanan finansial rumah tangga mulai rentan. Ketika pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, konsumen mengalihkan fokusnya dari akumulasi aset menuju pengamanan arus kas harian. Dalam kondisi seperti ini, perilaku frugal bukan lagi pilihan, tetapi strategi adaptif,” jelasnya.

Kombinasi penurunan tabungan, melemahnya investasi, dan pendapatan yang stagnan inilah yang membentuk pola konsumsi baru yang semakin dominan: Frugal Consumer. Konsumen kini lebih selektif, hemat, dan menuntut value-for-money dalam setiap keputusan pembelian tren yang diprediksi kuat berlanjut pada 2026.



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!