BeritaBudaya

Camat Maros Baru Tutup Festival Ramadhan Ceria VI di Majannang, Pemuda Bangkitkan Tradisi yang Sempat Vakum

×

Camat Maros Baru Tutup Festival Ramadhan Ceria VI di Majannang, Pemuda Bangkitkan Tradisi yang Sempat Vakum

Sebarkan artikel ini
Foto: Festival Ramadhan Ceria Jilid VI Tahun 2026 resmi ditutup oleh Camat Maros Baru, Rudi, S.IP.,MM.(Ist)

TEROPONGNEWS.COM, MAROS — Setelah sempat menghilang selama beberapa tahun, denyut kebersamaan masyarakat kembali terasa di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru. Festival Ramadhan Ceria Jilid VI Tahun 2026 resmi ditutup oleh Camat Maros Baru, Rudi, dalam malam penutupan yang berlangsung meriah dan disambut antusias ratusan warga.

Kegiatan yang digagas oleh pemuda Karang Taruna Desa Majannang bersama Ikatan Remaja Masjid Nurul Jama’ah Taipa (IRMANJATI) ini menjadi simbol kebangkitan semangat kolektif masyarakat setelah selama tiga tahun kegiatan Ramadhan di wilayah tersebut sempat vakum.

Dalam sambutannya, Camat Maros Baru, Rudi, memberikan apresiasi kepada para pemuda yang berani mengambil inisiatif untuk menghidupkan kembali kegiatan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.

“Festival Ramadhan seperti ini bukan hanya sekadar perlombaan atau hiburan. Ini adalah ruang untuk mempererat kebersamaan, memperkuat nilai keagamaan, sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sosialnya. Saya sangat mengapresiasi para pemuda yang mampu membuktikan bahwa dengan kemauan dan kerja sama, kegiatan yang sempat vakum dapat kembali hidup,” ujar Rudi.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sampai di sini dan dapat menjadi agenda tahunan yang semakin berkembang dengan dukungan seluruh elemen masyarakat.

Sementara itu, Formatur Ketua Karang Taruna Desa Majannang, Sakti, menegaskan bahwa bangkitnya kembali Festival Ramadhan Ceria merupakan bukti bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian besar terhadap kehidupan sosial dan keagamaan di desa.

Namun dalam sambutannya, ia juga melontarkan kritik tajam terhadap budaya lama yang menurutnya terlalu banyak diwarnai oleh wacana tanpa kerja nyata.

“Harus kita jujur mengatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir kegiatan ini sempat hilang dari kehidupan masyarakat. Entah karena kurangnya perhatian, atau mungkin karena terlalu banyak orang yang pandai berbicara tetapi jarang terlihat bekerja,” tegas Sakti di hadapan masyarakat.

Menurutnya, generasi muda hari ini tidak ingin terjebak dalam budaya seremonial dan retorika kosong.

“Kadang yang paling keras berbicara justru yang paling jarang turun ke lapangan. Desa ini tidak kekurangan orang yang pandai memberi nasihat, tetapi sering kali kekurangan orang yang benar-benar mau bekerja. Karena itu Festival Ramadhan Ceria ini adalah bukti bahwa perubahan tidak lahir dari banyaknya pidato, melainkan dari keberanian untuk bergerak,” lanjutnya.

Festival Ramadhan Ceria Jilid VI menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan dan perlombaan yang melibatkan anak-anak hingga remaja, mulai dari lomba adzan, hafalan surah pendek, hingga kegiatan religi lainnya yang berlangsung sepanjang bulan Ramadhan.

Antusiasme warga yang memadati lokasi acara pada malam penutupan menjadi bukti bahwa kegiatan tersebut kembali menjadi ruang kebersamaan yang dirindukan masyarakat setiap Ramadhan.

Karang Taruna Desa Majannang berharap kebangkitan Festival Ramadhan Ceria ini dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang dengan dukungan yang lebih luas dari seluruh elemen masyarakat.

“Ramadhan adalah momentum mempersatukan masyarakat. Jangan sampai kegiatan seperti ini kembali hilang hanya karena kurangnya kepedulian. Desa ini membutuhkan orang-orang yang bekerja untuk masyarakat, bukan sekadar mereka yang pandai berbicara,” tutup Sakti.



📢 Dapatkan Berita Lugas, Kupas Tuntas dengan Analisis Tegas, dan Informasi Tanpa Batas! Ikuti Teropong News di Google News dan tekan tanda bintang ⭐ agar tidak ketinggalan berita terbaru.

📲 Untuk update langsung di WhatsApp, ikuti channel resmi kami di sini dan aktifkan notifikasi 🔔 sekarang juga!