TEROPONGNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas sebagai janji politik Presiden Prabowo Subianto sejatinya bertujuan mulia: memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak sebagai bagian dari strategi menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas SDM.
Namun, alih-alih menjadi solusi, program ini justru menyulut kegaduhan yang berulang—dari kisruh pembayaran, kualitas gizi, hingga dugaan proyek bancakan yang menguntungkan kelompok tertentu.
Ketidaksiapan Perencanaan dan Keterbatasan APBN
Pada titik ini, kita patut bertanya: apakah program MBG ini memang dipersiapkan secara matang?* Ataukah ia adalah produk politik yang dipaksakan tanpa dukungan fiskal yang realistis?
Jawabannya mengarah pada kegagalan perencanaan dan ketidaksiapan APBN mengakomodasi ambisi yang terlalu besar dalam waktu yang terlalu singkat.
Sejak awal, program ini tampaknya tidak dibangun di atas basis fiskal yang kokoh, melainkan di atas ilusi politik populis.
APBN 2025 tidak menunjukkan kesiapan struktural maupun ruang fiskal yang memadai untuk menyokong program sekelas MBG, apalagi dengan perluasan skala yang eksponensial.










